MENGAPA PARA ROSUL DIUTUS?
Dan tidaklah Kami
ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada Allah.
(adz-Dzariyat:56)
Ayat yang mulia ini
menjelaskan bahwa hikmah diciptakannya Jin dan Manusia adalah untuk beribadah
kepada Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.
Berkata Ibnu Katsir:
Ibadah yang dimaksud
adalah ketaatan kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan perintahNya dan
meninggalkan laranganNya. Itulah hakikat agama Islam karena makna Islam adalah
berserah diri disertai dengan segala puncak ketundukan, kepatuhan dan
perendahan diri.
Beliau berkata pula: makna ayat ini adalah
bahwa Allah Ta’ala menciptakan makhluk agar beribadah semata-mata
kepadaNya. Barang siapa taat maka dibalas dengan balasan yang sempurna dan
barang siapa menentang akan disiksa dengan siksaan yang pedih.
Diriwayatkan oleh Imam
Bukhori dan Muslim dari Mua’dz bin Jabal berkata: “aku berada di belakang Nabi
ketika menunggangi Keledai, lalu beliau berkata kepadaku:
يا معاذ ما حق الله على العباد؟ وما حق
العباد على الله؟
Wahai Mua’dz apa hak
Allah terhadap hambanya dan apa hak hamba terhadap Allah? Maka aku menjawab: Allah dan Rosulnya lebih tau,
Rosul bersabda:
حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا
به شيئا وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئا
Hak Allah terhadap
hambanya, hendaklah mereka menyembah kepadaNya tanpa menyekutukan dengan
sesuatu apapun. Dan hak hamba terhadap Allah, tidak diadzab bagi yang tidak
menyekutukanNya.
Perintah mengesakan Allah
dalam beribadah adalah tujuan utama dari diutusnya para Rosul. Allah Ta’ala
berfirman:
ولقد بعثتا في كلّ أمّة رسولا أن اعيدوا الله واجتنبوا الطاغوت
Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap
umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[1]".
(anNahl: 36)
Allah Ta’ala berfirman:
ولقد أرسلنا نوحا إلى قومه فقال يا قوم
اعبدوا الله ما لكم من إلاه غيره
Sesungguhnya Kami
telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah
Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." (alA’rof: 59)
Dan berkata Hud a.s kepada
kaumnya:
قال يا قوم اعبدوا الله ما لكم من إلاه
غيره
"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu
selain dari-Nya. (alA’rof: 65)
Dan berkata Saleh a.s kepada kaumnya:
قال يا قوم اعبدوا الله ما لكم من إلاه غيره
"Hai kaumku,
sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. (alA’rof:
73)
Dan berkata Syu’aib a.s
kepada kaumnya:
قال يا قوم اعبدوا الله ما لكم من إلاه غيره
"Hai kaumku,
sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. (alA’rof: 85)
Oleh karenanya merupakan
suatu kebenaran bahwa kewajiban pertama pada mukallaf (Jin dan Manusia) adalah
Syahadat La Ilaaha Illa Allah. Tidak ada perdebatan dan keraguan, bahkan
Ulama Salaf bersepakat bahwa perintah pertama kepada hamba adalah Syahadatain
(dua kalimat syahadat).
Maka Tauhid adalah yang
pertama di dalam Islam dan yang terakhir keluar dari Dunia ini, sebagaimana
Rosul bersabda:
من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل
الجنة
Barang siapa yang akhir
perkataannya adalah Laa Ilaaha Illa Allah maka dia akan masuk Surga. inilah kewajiban pertama dan terakhir, inilah yang
dinamakan dengan Tauhid Uluhiyah atau Tauhid Ibadah, yang mana
banyak pengingkaran para makhluk tentang permasalahan ini, maka untuk
kepentingan ini para Rosul diutus dan diturunkan kepada mereka kitab.
Allah Ta’ala berfirman :
وما أرسلنا من قبلك من رسول إلا نوحي إليه
أنّه لاإله إلا أنا فاعيدونٍ
Dan Kami tidak
mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya:
"Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah aku
olehmu sekalian ". (alAnbiya’: 25)
Oleh karena itu banyak
dari para Rosul yang hanya memiliki sedikit pengikut sebagaimana sabda Rosul
saw:
فرأيت النبي ومعه الرهط والنبي ومعه الرجل
والرجلان والنبي وليس معه أحد (رواه البخاري)
Maka aku melihat Nabi
dan bersamanya sekelompok laki laki yang mengikutinya, seorang Nabi bersamanya
satu atau dua orang pengikut dan aku melihat Nabi yang tidak memiliki seorang
pengikutpun. (H.R Bukhori)
Dalil-dalil di atas
menunjukkan akan pentingnya Tauhid, maka
untuk langkah selanjutnya kita perlu memperhatikan bahaya dari kesyirikan.
Allah ta’ala berfirman
إنّ الله لا يغفر أن يشرك به و يغفر ما
دون ذلك لمن يشاء
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan
mengampuni segala dosa selain dari (syirik), bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
(anNisa’: 48)
Berkata Ibrohim a.s:
واجنبني و بنيّ أن نعبد الأصنام
dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada
menyembah berhala-berhala. (Ibrohim: 35)
Diriwayatkan oleh Imam Bukhori
dari Ibnu Mas’ud bahwa rosulullah saw bersabda :
من مات وهو يدعو من دون الله ندا دخل النار
Barang siapa meninggal dunia
sementara dia dalam keadaan menyembah selain allah maka dia tidak akan masuk Surga .
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari
Jabir bahwa Rosulullah saw bersabda :
من لقي الله لا
يشرك به شيئا دخل الجنّة, ومن لقيه يشرك به شيئا دخل النار
Barang siapa bertemu dengan allah
(di Hari Kiamat) dengan tidak menyekutukan dengan
sesuatu apapun maka ia akan masuk surga dan barang siapa bertemu denganNya
dalam keadaan menyekutukan dengan selainNya maka ia akan masuk neraka .
kalau kita memperhatikan keadaaan
di masyarakat, betapa banyak penyimpangan yang berkaitan dengan permasalahan
Tauhid seperti: kepercayaan mereka kepada Paranormal, ketergantungan terhadap
Jimat, pengagungan terhadap Kubur orang-orang soleh, Sesajen dan banyak lagi
penyimpangan-penyimpangan yang lain.
Maka ini adalah tanggung jawab kita sebagai seorang
Muslim, di dalam memberantas kesyirikan yang terjadi di masyarakat.
Allah Ta’ala berfirman:
قل هذه سبيلي أدعو إلى الله على بصيرة أنا ومن اتّبعني وسبحان الله وما
أنا من المشركين
Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan
orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah
(argumen) yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang
musyrik". (Yusuf: 108)
Dan diriwayatkan oleh imam Bukhori dan Muslim dari Ibnu
‘Abbas berkata: “ketika Rosulullah saw mengutus Mu’adz ke Yaman beliau
berpesan:
إنك تأتي قوما من أهل الكتاب, فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله
إلا الله ...إلخ
Sesungguhnya engkau akan datang kepada suatu kaum dari
Ahli Kitab, maka hendaklah hal pertama yang kau serukan kepada mereka adalah,
Shahadatu An Laa Ilaha Illallah…. (Alhadits)
Dan diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Sahl bin Sa’d,
ketika Rosulullah memberikan bendera Islam kepada Ali bin Abi Tholib pada
perang Khoibar, beliau berpesan:
أنفذ على رسلك, حتى تنزل بساحتهم, ثم ادعهم إلى الإسلام وأخبرهم بما يجب
عليهم من حق الله تعالى فيه, فوالله لأن يهدي الله بك رجلا واحدا خير لك من حمر
النعم
“berhati-hatilah, sampai engakau memasuki kawasan
mereka (yahudi Khoibar), lalu serulah mereka kepada Islam, dan beritahukan akan
hak Allah terhadap mereka, maka demi Allah kalau Allah memberikan hidayah
seorang laki-laki, melalui perantara kamu, itu jauh lebih baik dari pada Unta
Merah (harta paling berharga pada masa itu).
Semoga
Allah melindungi kita dari bahaya kesyirikan dan mematikan kita dalam keadaan
bertauhid kepadaNya